Monday, June 22, 2015

Angin 001 (DuTo's Famiglia)

Yo, aku mengupdate nya lho. Tahun 2015 ada sebuah kelompok pengendali elemen yang merupakan pengendali tingkat atas yang terdiri dari lebih 1000 orang. Tidak ada yang tau siapa pemimpin dan apa motif terbentuknya kelompok ini. Menurut rumor yang beredar kelompok ini berisi orang-orang terabaikan dari seluruh keluarga pengendali yang ada di dunia. Mata-mata negara yang di kirim ke daerah operasi DuTo selalu tidak pernah pulang dengan utuh. Pemerintah menetapkan DuTo sebagai kelompok mafia Rank-S karena hal ini. Di salah satu tempat yang terdapat DuTo Manor (rumah kebesaran DuTo). Di sana berkumpul 15 orang yang menggunakan pakaian hitam dan putih. Yang berpakaian hitam di sebut pasukan dalam atau cadangan dan yang berpakaian putih adalah pasukan luar atau pasukan utama . Mereka sedang duduk mengelilingi meja (tiba-tiba teringat KMB). Bos DuTo= BDT BDT: Sesuai rencana kita akan mengirim anak berpotensi ke Rakuen Akademi di Jepang (dapat dari grisia no rakuen) kita akan memeriksa keadaan sampai rapat berikutnya. Yang akan mendaftar disana adalah Rios, Len, Risa, Mery( kecuali Rios semua namanya ngarang). Sekarang semuanya boleh bubar. Semua serentak meninggalkan ruangan tanpa banyak bicara, karena mereka tau salah bicara maka kau mati. Di sebuah sekolah pengendali elemen sedang membuka pendaftaran untuk pengguna elemen berbakat dan berpotensi, dimana sekolah ini dipimpin oleh Renz KyuYo, pemimpin saat ini keluarga KyuYo (pemimpin ke-24). Testnya adalah ujian tertulis kemudian pertarungan 1vs1 di berbagai macam arena yang disediakan. Dan akan di pilih yang paling berpotensi. Khe khe khe, DuTo famiglia sudah bergerak bagaimana kedepannya? Dimanakah Aldi KyuYo berada? Sha komentar lah teman temanku. Chapter 3 menunggu setelah chapter 2 di Read 10 kali.

Thursday, June 18, 2015

Angin 000 ( Prolog : Awal Dari Segalanya)

Yo, aku mempunyai masalah baru baru ini. Aku tidak bisa mempublikasikan cerita back to the past karena "dia". Jadi aku akan membuat cerita baru. Angin kebebasan : Awal dari segalanya. Sekitar 1000 tahun yang lalu ada seorang pria miskin yang baik hati. Karena kebaikan nya para dewa memberinya sebuah kekuatan untuk mencari makanan di hutan roh. Kekuatan itu berupa pengendalian elemen yang terbagi menjadi 4( elemen angin, air, tanah, dan api). Setelah mendapat kekuatan elemen dia mengajarkan pada masyarakat dan diangkat menjadi pemimpin. Selama 1000 tahun lamanya kekuatan elemen terus berkembang dan menciptakan pengendalian elemen yang baru seperti lava, metal, serta ada banyak lagi. Disebuah rumah keluarga besar KyuYo yang berisikan para pengendali elemen sedang mengadakan pertarungan penentuan untuk calon pemimpin ke-25. Pertandingan final antara Rin KyuYo vs Aldi KyuYo berhasil dimenangkan oleh Rin KyuYo, karena Aldi merupakan pengendali yang buruk. Ayahnya Rens KyuYo mengusirnya karena kalah. Sejak saat itu Aldi KyuYo tidak pernah terlihat lagi, ada yang mengatakan kalau dia sudah mati tapi ada juga yang bilang dia sedang berlatih. Sementara itu sebuah organisasi kriminal DuTo telah muncul dan siap menjalankan perintah tuan mereka. Sha, kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya? Yosh. Hanya segitu aku liat dulu bagaimana respon yang lain.

Saturday, April 25, 2015

Back to the past 000

Saya lagi terobsesi sama hal ginian jadi saya buat ceritanya tolong kritik dan saran yang membangunn. 1 Permulaan. Disebuah rumah yang lumayan mewah ada 3 anggota keluarga yang sedang makan siang bersama. "Berapa nilai test mu kemarin Ranu?"tanya ayahnya dengan wajah serius (serius bukan sirius black). Abaikan yang ada di dalam kurung hehe. "Aku mendapat nilai rata-rata 98 di test akhirku ayah!"jawab Ranu pada ayahnya. Brakkk, meja dipukul oleh ayahnya. "Hanya 98 kenapa tidak bisa 100 itu hanya nilai anak biasa bagi ayah"tegas ayahnya. "Seperti kau bisa saja orang tua. Aku akan pergi ke rumah Melati"ucap Ranu pergi meninggalkan meja makan dan rumahnya menuju rumah sahabatnya Melati. Kediaman Melati. Melati sedang melihat poto keluarganya dimana ada ayah ibu dan dirinya sendiri. Melati menjatuhkan air matanya melihat poto ibunya. 'Aku merindukanmu, bu'batin Melati. "Melati"panggil seorang pria berumur 40 tahun. "Ayah"ucap Melati. "Ayah tau kamu rindu pada ibumu tapi cobalah untuk mengiklaskan ibumu. Ayah tau ini masih sulit untukmu"ucap Aldi dengan pandangan nanar melihat anaknya sedih atas kematian ibunya. Dirinya sendiri tidak akan berbohong bahwa dia juga sangat sedih atas kematian istrinya yang telah menemani hidupnya selama hampir 10 tahun itu. Namun dia juga tidak mau membuat Alr. Istrinya tersiksa jika harus melihat mereka sesedih ini. Hanya segitu untuk sekarang.

Back to the past 000

Saya lagi terobsesi sama hal ginian jadi saya buat ceritanya tolong kritik dan saran yang membangunn. 1 Permulaan. Disebuah rumah yang lumayan mewah ada 3 anggota keluarga yang sedang makan siang bersama. "Berapa nilai test mu kemarin Ranu?"tanya ayahnya dengan wajah serius (serius bukan sirius black). Abaikan yang ada di dalam kurung hehe. "Aku mendapat nilai rata-rata 98 di test akhirku ayah!"jawab Ranu pada ayahnya. Brakkk, meja dipukul oleh ayahnya. "Hanya 98 kenapa tidak bisa 100 itu hanya nilai anak biasa bagi ayah"tegas ayahnya. "Seperti kau bisa saja orang tua. Aku akan pergi ke rumah Melati"ucap Ranu pergi meninggalkan meja makan dan rumahnya menuju rumah sahabatnya Melati. Kediaman Melati. Melati sedang melihat poto keluarganya dimana ada ayah ibu dan dirinya sendiri. Melati menjatuhkan air matanya melihat poto ibunya. 'Aku merindukanmu, bu'batin Melati. "Melati"panggil seorang pria berumur 40 tahun. "Ayah"ucap Melati. "Ayah tau kamu rindu pada ibumu tapi cobalah untuk mengiklaskan ibumu. Ayah tau ini masih sulit untukmu"ucap Aldi dengan pandangan nanar melihat anaknya sedih atas kematian ibunya. Dirinya sendiri tidak akan berbohong bahwa dia juga sangat sedih atas kematian istrinya yang telah menemani hidupnya selama hampir 10 tahun itu. Namun dia juga tidak mau membuat Alr. Istrinya tersiksa jika harus melihat mereka sesedih ini. Hanya segitu untuk sekarang.

Monday, October 13, 2014

Salam kembali!

Yo, sudah lama saya tidak terjun ke dunia blog lagi, kali ini mungkin saya akan menyempatkan diri untuk mampir ke blog.

Percobaan

Dikisahkan, pada jaman dahulu kala di daerah jawa barat hiduplah seorang lelaki petani yang sangat kaya. Seluruh sawah dan ladang di desanya menjadi miliknya. Penduduk desa hanya menjadi buruh tani penggarap sawah dan ladang lelaki kaya itu. Petani kaya itu memiliki sifat kikir. Oleh karena itu, penduduk desa menjulukinya Pak Kikir. Kekikiran Pak kikir tidak pandang bulu, sampai-sampai terhadap anak lelaki satu-satunya pun dia juga sangat pelit. Untunglah sifat kikir itu tidak menular pada anak lelakinya itu. Anak Pak Kikir itu adalah pemuda yang baik hati. Tanpa sepengetahuan ayahnya, dia sering membantu tetangganya yang kesusahan. Menurut anggapan dan kepercayaan masyarakat desa itu, jika menginginkan hasil panen yang baik dan melimpah maka harus diadakan pesta syukuran dengan baik pula. Takut jika panen berikutnya gagal, maka Pak Kikir terpaksa mengadakan pesta syukuran dan selamatan semua warga desa diundang oleh Pak Kikir. Pak Kikir: Wahai, para penduduk desa! Datanglah, kemari! Aku akan mengadakan pesta syukuran dan selamatan. Jangan lewatkan kesempatan ini! Warga 1: Hei, Kawan! tinggalkan dulu pekerjaannya. Pak kikir sedang mengadakan acara syukuran kita para warga desa diundang untuk datang ke rumahnya. Warga 2: Ayo, ayo, buruan kita datang. Nanti buru abis makanannnya. Warga 3: Ayo, kita sama-sama datang ke rumahnya. Narator: Begitu setelah warga sampai di rumah Pak Kikir.... Warga 2: Huuuuhh! Kita diundang orang terkaya se desa, ku kira akan disediakan makanan yang enak dan lezat. Ternyata....cuman makanan apa ini?? Ga enak! Lagian makanannya dikiiit bangeeet. Ah! Ternyata perkiraanku meleset. Warga 3: Iya betul. Tuh lihat para tamu undangan yang lain juga tidak mendapat makanan. Warga 1: Ya Tuhaaann!(sambil mengelus dada) Pak kikir memang terbukti kikir! Warga 2: Huuh!! Sudah berani mengundang orang ternyata tidak dapat menyediakan makanan, sungguh keterlaluan! buat apa hartanya yang segudang itu. Tuhan tidak akan memberikan berkah pada hartanya yang banyak itu. Narator: Demikianlah pergunjingan dan sumpah serapah dari orang-orang miskin mewarnai pesta selamatan yang diadakan Pak Kikir. Pada saat pesta selamatan sedang berlangsung, iba-tiba datanglah seorang nenek tua renta, Nenek: (sambil merintih) Tuan... berilah saya sedekah, walau hanya dengan sesuap nasi. Pak Kikir: Apa, sedekah?! Kau kira untuk menanak nasi tidak diperlukan jerih payah hah...? Nenek: Berilah saya sedikit saja dari harta tuan yang berlimpah ruah itu....Tuan, Pak Kikir: Tidak! Cepat pergi dari sini! kalau tidak, aku akan suruh tukang pukulku untuk menghajarmu!! Narator: Nenek tua itu segera berlalu dari hadapan Pak Kikir. Tidak mendapat sedekah tetapi malah diusir secara kasar oleh Pak Kikir. Dengan hati pilu, dan mengeluarkan air mata. nenek yang malang itu segera meninggalkan halaman rumah Pak Kikir. Ia berjalan sempoyongan menyusuri jalan desa. Melihat kejadian itu putera Pak Kikir sangat sedih. Anak Pak Kikir: Kasihan Nenek itu. Sudah dibentak-bentak ayah tapi juga ga dikasih makanan oleh ayah. Gimana ya, caranya aku bisa ngasih sedekah ke nenek itu? Oooh iya, aku ambilkan saja jatah makan siangku buat nenek itu. Narator: Tak lama kemudian anak Pak Kikir mengejar si nenek tua.... Anak Pak Kikir: Mana si nenek ya? Ooh itu dia! Sudah sampai di ujung desa. Nek! Tunggu, Nek! Narator: Nenek itu pun berhenti, lalu menoleh ke belakang. Ia melihat seorang anak muda berlari mendekatinya. Nenek: Ada apa, Anak muda? Anak Pak Kikir: Saya anak Pak Kikir, Nek! Saya ingin meminta maaf atas perlakuan ayah saya tadi! Sebagai obat kecewa, ambillah jatah makan siang saya ini, Nek! Nenek: (gembira)Terima kasih, Nak! Engkau anak yang baik hati. Semoga Tuhan akan membalas kebaikanmu ini dengan kemuliaan. Anak Pak Kikir: Sama-sama, Nek! kalau begitu, saya langsung pulang ya, Nek. Khawatir ayah mencariku. Nenek: Hati-hati, Nak Narator: Setelah anak Pak Kikir pergi, nenek tua itu segera menyantap makanan itu, lalu kembali melanjutkan perjalanan menuju ke sebuah bukit di dekat desa. Setibanya di atas bukit, ia berhenti sejenak untuk melepaskan lelah. Dari atas bukit itu ia dapat melihat rumah Pak Kikir berdiri dengan megah di antara rumah-rumah penduduk desa. Ia turut bersedih melihat penderitaan penduduk akibat keserakahan Pak Kikir. Nenek: Dasar orang tua serakah! Tunggulah pembalasannya, Pak Kikir! Tuhan akan menimpakan hukuman kepadamu. Keserakahan dan kekikiranmu akan menenggelamkanmu!
Narator: Usai berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa, nenek tua itu segera menancapkan tongkatnya ke tanah. Begitu ia mencabut kembali tongkatnya, terpancarlah air yang sangat deras dari lubang tancapan itu. Semakin lama lubang tancapan itu semakin besar, sehingga terjadilah banjirlah besar. Melihat kedatangan banjir itu, para warga yang masih berkumpul di rumah Pak Kikir menjadi panik dan segera berlarian mencari tempat perlindungan untuk menyelamatkan diri. Warga 2: Haaahh?? Kenapa tiba-tiba ada air mengalir banyak sekali? Warga 1: Ini banjir! Warga 3: Iya betul. Ini banjir(teriak)Banjir...! Banjir...! Ayo lari...! Narator: Melihat kepanikan para warga, anak Pak Kikir segera menganjurkan mereka agar berlari menuju ke atas bukit mencari tempat yang aman. Anak Pak Kikir: Hai, para warga ga usah panik! Ayo segera kita selamatkan diri kita. Ayo, kita semua lari ke atas bukit! Warga 1,2,3: Bagaimana dengan sawah dan ternak kita? Anak Pak Kikir: Tidak usah memikirkan harta kalian! Kalian pilih harta atau jiwa?! Sudah tidak ada waktu untuk membawa harta lagi. Yang penting selamatkan dulu nyawa kalian! Narator: Anak Pak Kikir yang bijak itu terus berteriak-teriak mengingatkan penduduk desa. Akhirnya, warga pun berlarian menuju ke atas bukit. Ia juga membujuk ayahnya agar segera keluar rumah menyelamatkan diri. Tapi apa kata Pak kikir... Anak Pak Kikir: Ayah, cepat tinggalkan rumah ini! kita harus segera keluar menyelamatkan diri! Pak Kikir: Apa? Lari begitu saja. Tolol!! Aku harus mengambil peti hartaku yang kusimpan di dalam tanah dulu! Anak Pak kikir: (teriak)Ayah, ayo cepat keluarlah dari rumah! Banjir itu sudah semakin dekat! Kita harus segera menyelamatkan diri!” Ayaaaah! Ayo cepat keluaaar, ayaaah! Duuuh gimana ini ayah tidak mau keluar juga. Ya sudahlah aku harus menyelamatkan diri dengan para warga. Narator: Pak Kikir tidak menghiraukan seruan anaknya. Ia terus berusaha mengambil peti hartanya yang disimpan di dalam tanah. Sementara anak Pak Kikir dan warga menyelamatkan diri berlari naik ke atas bukit, akhirnya selamat. sedangkan Pak Kikir yang masih sibuk mengumpulkan hartanya, tidak dapat lagi menyelamatkan diri. Banjir besar itu telah menenggalamkannya. Meskipun selamat mereka sangat sedih, karena seluruh desa mereka sudah terendam banjir. Rumah, ternak, dan seluruh harta benda mereka hanyut terbawa arus banjir. Para warga dan anak Pak Kikir menatap pemandangan desanya dari atas bukit penuh dengan genangan air. Anak Pak Kikir: Wahai para warga, kita tidak boleh larut terus menerus dalam kesedihan. Kita harus segera bangkit. Kita sama-sama mencari daerah lain yang lebih aman untuk kita bisa bermukim. Warga 1: Ya betul! Kita ikut anjuranmu, Nak. Ayo kita segera berangkat! Narator: Tak lama kemudian.... Warga 2: Nah! Tempat ini sepertinya cocok untuk pemukiman kita. Bagaimana para warga setuju kita tinggal di sini! Para warga: Setujuuu? Warga 3: Nah sekarang, kita menempati tempat tinggal baru. Kita harus memiliki pemimpin untuk memimpin desa kita yang baru. Bagaimana kalau kita pilih pemuda ini untuk menjadi kepala desa kita yang baru? Setuju para warga? Para warga: Setujuuu!! Narator: Setelah anak Pak kikir diangkat warga menjadi kepala desa, Anak Pak Kikir itu bisa menjadi seorang pemimpin yang adil dan bijaksana. Tak lama kemudian, Setelah membagi tanah secara rata, ia pun menganjurkan warganya untuk mengolah tanah tersebut. Ia mengajari mereka cara menanam padi dan mengairi sawah dengan baik. Berkat anjuran anak Pak Kikir, mereka hidup aman dan sejahtera. Mereka pun senantiasa patuh terhadap anjuran pemimpinnya. Desa itu kemudian mereka namai Desa Anjuran. Lama kelamaan desa itu berkembang menjadi kota kecil disebut Cianjur. Ci berarti air. Cianjur berarti daerah yang cukup mengandung air. Anjuran pemimpin desa dijadikan pedoman para petani dalam mengolah sawah. Hingga kini, kota Cianjur selain dikenal sebagai kota santri, juga penghasil beras wangi dan pulen. Dari cerita di atas, juga bisa diambil pelajaran bahwa kekikiran dan keserakahan terhadap harta benda dapat menyebabkan seseorang celaka.

Angin 001 (DuTo's Famiglia)

Yo, aku mengupdate nya lho. Tahun 2015 ada sebuah kelompok pengendali elemen yang merupakan pengendali tingkat atas yang terdiri dari l...